Menjadi Indonesia

Menjadi Indonesia adalah sebuah proses untuk menjadi manusia yang seutuhnya. Hal yang tidak akan ditemukan di dalam proses nasiolisme diri pada rata-rata negara lain di dunia. Mengapa?

Karena Indonesia berbeda.

Kita pilih saja satu contoh. Keberagamannya. Amerika mungkin dianggap sebagai negara besar. Tapi Amerika sebenarnya tak lebih dari sebuah ‘club’ imigran. Mereka yang menyebut dirinya sebagai American Citizen sangat paham sejarah keberadaan mereka di negara itu. Leluhur mereka adalah para imigran. Entah itu dari gelombang pertama yang datang dalam rangka mencari tanah jajahan baru, atau gelombang berikutnya yang datang berbondong-bondong meninggalkan negara asal dengan berbagai misi. Melarikan diri karena perang, mencoba mengadu nasip, atau melupakan kekasih yang dipinang orang lain. Pendatang yang kini menguasai negara dan menjadikan pemukim asli sebagai ‘mahluk yang dilindungi’ setelah sebelumnya diperangi sampai sebagian besar musnah.

Tapi mereka tak memiliki keberagaman seperti di Indonesia.

Dengan total bahasa lokal berjumlah 742 bahasa. Indonesia menduduki peringkat kedua sebagai negara dengan ragam bahasa terbanyak di dunia.

Indonesia juga tercatat sebagai negara dengan jumlah suku terbanyak di dunia. Data statistik 2016 menunjukkan kita memiliki 1340 suku. Dan hampir sebagian ‘ras’ besar di dunia terdapat di negeri luas ini. Melanezoid, negroid, weddoid, mongoloid, kaukasoid. Bahkan diyakini ada terdapat percampuran dari ras khusus seperti Polynesian.

Ditambah lagi dengan fakta bahwa hampir semua agama utama di dunia ada di Indonesia. Islam, Kristen, Hindu, dan Budha.

Maka menjadi Indonesia adalah sebuah proses toleransi luar biasa. Dan sebelum beberapa tahun ini, ketika secara mendadak muncul kembali isu anti pada ras tertentu, negara ini aman dan damai.

Tak dipungkiri, terdapat satu dua kasus, tapi selain itu, keberagaman dan saling menghormati adalah hal yang sudah menjadi budaya dalam keseharian.

Di Aceh, wilayah dengan penduduk yang rata-rata muslim, masyarakat dari beragam agama dan suku hidup berdampingan dengan nyaman. Bahkan meskipun ketika konflik militer terjadi, sering kita temukan kisah-kisah ketika masyarakat dari berbagai suku saling tolong dan melindungi, tak jarang selain membuahkan kisah indah toleransi, kita temukan juga kisah pedih pengorbanan yang harus dibayar untuk tolong menolong yang dilakukan.

Suka tidak suka, definisi Indonesia mulai tercoreng paska pilpres 2014 kemarin. Mungkin akan kita bahas di tulisan lain. Tapi yang jelas, saat ini adalah saatnya untuk mengembalikan makna Indonesia yang sebenarnya. Membersihkan kembali nasionalisme yang coba dikotori oleh sekelompok kecil orang yang ingin mencari keuntungan dan mengendalikan negara indah kaya nan luas ini.

Ini saatnya melihat kembali sejarah perjuangan bangsa dan mengembalikannya dalam hati kita.

Sehingga kita bisa dengan bangga berkata, Saya Indonesia. Tak peduli apa suku kita, apa asal leluhur kita. Karena sebenarnya saat ini, kita semua Indonesia. Dan itu, dibuktikan dengan tindakan yang menjaga dan melindungi bangsa ini.

Sudahkah kamu menjadi Indonesia?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑