Ahok, papan bunga, dan menjadi Indonesia. 

Pilkada DKI tahun 2017 ini menjadi satu catatan penting dalam sejarah. Perseteruan antara dua kelompok calon Gubernur yang tanpa diduga berubah menjadi titik perubahan dalam warna perpolitikan di Indonesia.

Menarik karena periode ‘kampanye’ kemarin menyingkap bara perpecahan yang ternyata tersimpan di bawah kehidupan sehari-hari di Jakarta (dan Indonesia).

Isu intoleransi, kebencian etnis, bermunculan. Uniknya, bila mau melihat jujur, isu itu justru dikipasi — entah disengaja atau tidak disengaja — oleh pihak yang mengusung tema toleransi sebagai warna kampanye mereka.

Iklan kampanye yang kemudian dilarang, menampilkan adegan demi adegan yang diprotes oleh banyak kalangan.

Meskipun ingin menampilkan ajakan untuk membentuk Jakarta Baru yang toleran, namun pesan tersirat dari iklan tersebut justru memberi kesan Jakarta selama ini selalu ricuh. Seolah ada kebencian dan perpecahan yang selalu ada. Padahal kenyataannya selama ini Jakarta adalah salah satu kota dengan toleransi yang sangat baik.

Cuplikan lainnya menunjukkan sosok-sosok yang langsung dapat dikenali sebagai muslim dengan latar spanduk bertuliskan kebencian terhadap etnis Cina, yang disebutkan sebagai gambaran tragedi ’98. Meskipun kenyataannya tidak begitu. Kerusuhan ’98 bukanlah dipicu oleh kelompok agama tertentu.

Selepas hari pencoblosan, dan hasil resmi  dari Komisi Pemilihan Umum didapat, yang memastikan bahwa selepas Oktober nanti Jakarta akan memiliki Gubernur baru, masyarakat merasa (atau berharap)  semua selesai.

Seperti pilkada yang lain, seperti pilkada sebelumnya, semua beda itu akan terhapus. Warga dunia maya juga mulai bermaaf-maafan, menghapus beda, kembali bersama memikirkan Indonesia.

Tapi ternyata tidak. Ada kelompok-kelompok yang menolak bersatu. Mereka terus mengipasi perpecahan.

Kejadian Papan Bunga seketika kembali menyalakan perbedaan. Mulai bermunculan kembali kelompok-kelompok yang saling cela. Dan perlahan tensi mulai naik lagi. Panas mulai muncul lagi.

Harus dihentikan. 

Kalau bicara saat untuk bergerak seperti ketika aksi umat kemarin, maka sekarang saatnya untuk bergerak. Menyuarakan Satu Indonesia dengan lantang.

Paslon pemenang pemilukada DKI di dukung oleh berbagai kelompok agama dan etnis. Begitu juga paslon yang tidak memenangkan. Ahok adalah sosok yang sering kebabalasan dalam bersikap dan berbicara, tapi punya catatan dalam memperbaiki birokrasi. Hal positif seperti kantor kelurahan yang buka cepat, pembuatan ktp yang cepat, pasukan siaga sampah yang bereaksi cepat pada laporan warga, dan lainnya. Prestasi yang tetap harus dihargai. Soal peradilan, itu hal berbeda, karena bila bicara hukum, keadilan dan peraturan tetap berlaku pada siapapun.

Anies Baswedan juga punya prestasi, jangan dilupakan hanya karena kita mendukung yang berbeda. Gerakan Indonesia Mengajar yang mengerakkan ribuan pengajar muda ke daerah-daerah terpencil dipenjuru negara luas ini, juga Turun Tangan yang menggerakkan para relawan sosial di seluruh Indonesia.

Terlepas dari kehebohan periode kampanye kemarin, ini hanya pilkada seperti pilkada lainnya.

Mari melihat pergerakan dunia saat ini, yang bila dilihat dengan jujur semakin menunjukkan pentingnya bangsa ini menjadi bangsa yang bersatu dan disegani. Kuat dan memiliki ikatan satu sama lain.

Sekarang saatnya untuk menghentikan saling cela. Sekarang saatnya untuk mrnahan jemari kita menyebarkan berita-berita yang hanya menebar perpecahan. Berita tak penting seperti mencela wajah pak Anies, mengolok papan bunga, mengungkit kekayaan pak Sandi, atau mengompori soal program yang bahkan belum berhak ditanyakan karena belum dilantik.

Mari menyikapi berita. Bagikan hanya hal yang memang diyakini kebenarannya, tak perlu dibumbui  dengan narasi saling cela. Hal benar yang menyakitkan tetap menyakitkan. Menebar garam pada luka itu hanya menambah sakit, dan kadang kala hanya akan membuat kondisi  yang tak lagi berdasarkan benar salah. Hanya ego yang terluka.

Mari menjadi Indonesia yang sebenarnya, yamg santun dan mau menghargai. Seperti Buya Hamka yang sopan dan tetap santun pada Pram meskipun berbeda pendapat.

Ada pihak yang ingin Indonesia hancur, dan rasanya kita tidak bodoh untuk mengabulkan keinginan mereka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: