Bandingnya Ahok dan Ancaman Struktur Sosial 

“Pak Ahok katanya banding.” Saat kalimat ini muncul dipercakapan grup semalam,  agak bingung apakah itu pernyataan atau pertanyaan.

Kenyataannya. Tak ada yang perlu di-nyinyiri, itu memang haknya kok. Habis itu ada kasasi. Itulah yang namanya hukum.

“Tapi gimana kalau hasilnya bebas?”

Bisa jadi, tapi juga hasil yang lebih berat juga mungkin. Ketika kita menyerahkan pada sistem hukum, kita harus siap dengan konsekuensinya. Apapun hasilnya, setelah semua perjuangan, kita sampai pada tahap meyakini itu adalah hal yg terbaik yang Allah berikan.

“Itu namanya pasrah, lemah.”

Itu namanya beriman, bro. Ikhlas. Setelah berjuang keras, dengan cara yang benar, gak bikin rusuh, gak terprovokasi, selanjutnya yang bisa kita lakukan adalah percaya pada takdir yang Allah siapkan.

Bukan hanya berpikir bisa bebas,  tapi termasuk terbuka untuk pemikiran bila hukumannya malah jadi lebih berat.

Ada pihak² yang ingin bangsa ini pecah. Kalau pemikiran saya, sama sekali bukan Islam Radikal, tapi pihak lain diluar agama-agama. Memecah belah agar bangsa ini lemah, kemudian mereka bisa mengintervesi,  masuk ke dalam sistem negara kita, berkedok HAM, kemanusiaan, tapi ujung²nya adalah menguasai aset dan potensi alam bangsa yang kaya ini.

Kita tidak sedang membicarakan para negara sahabat dan mitra negara ini, yang telah membuktikan hubungan baik selama ini. Saya juga tidak akan menyatakan itu cuma Cina, bisa dan sangat mungkin bahkan itu lintas etnis. Kekayaan bangsa ini memang sedang dalam ancaman asing, pihak-pihak di luar Indonesia, siapapun mereka.

Usaha membenturkan antar agama dan suku di Indonesia, justru membuat pemikiran bahwa mereka bukan dari agama maupun etnis tertentu, menjadi masuk akal.

Kebangkitan Cina sebagai kekuatan kapitalis baru di dunia menjadikan mereka sebagai salah satu karakter utama dalam perang penguasaan kekayaan ini. Ekspansi sayap mereka bahkan menjangkau jauh ke Afrika. Tapi jangan lupakan kekuatan dagang Eropa-Amerika yang tidak ingin lahan mereka hilang. Di sisi lain jangan lupa, bahwa perekonomian dunia dikuasai oleh kumpulan individu bukan bangsa atau negara.

Upaya radikalisasi Islam bukan hal baru. Sebagai agama terbesar dan memiliki penganut 80% dari total manusia Indonesia, dan berasal dari beragam suku dan etnis, membidik muslim adalah salah satu pondasi dasar dalam rencana penghancuran Indonesia , selain melemahkan pendidikan dan pola pikir. Massa terbesar yang lemah dan mudah terpengaruh adalah tujuannya.

Lihat saja bagaimana media asing berupaya membangun opini bahwa kasus Basuki Cahya Purnama atau Ahok, sebagai kasus kebencian etnis dan agama.

Labelisasi gerakan massa umat Islam yang tertib dan damai, dikesankan sebagai gerakan politik untuk menurunkan gubernur Kristen Cina. Kasus yang sebenarnya biasa saja, karena sebelumnya juga ada kasus dugaan penistaan agama di Indonesia. Kita masih ingat kisah seorang ibu yang dipenjara karena dugaan penistaan agama, berawal dari celetukan sambil lalu.

Kerapuhan struktur sosial kita akibat proses Social Fabricated yang terjadi selama perjalanan Indonesia dari merdeka hingga sekarang, serta tingginya kesenjangan ekonomi yang semakin diperkeruh oleh meningkatnya harga-harga yang terkait kebutuhan hidup masyarakat.

Hasil dari rekayasa sosial selama bertahun-tahun ini adalah rapuhnya kekuatan sosial masyarakat di perkotaan. Ada bara kecurigaan, ketidak puasan, dan kecemburuan sosial yang terus tersimpan.

Sudah banyak tulisan, pendapat, dan analisis mengenai skenario besar di balik upaya pembenturan antar kelompok yang menunggangi kasus pak Ahok. Fakta bahwa kasus itu adalah dugaan penistaan agama dibelokkan menjadi konflik etnis dan agama.

Dengan bangkitnya nilai nasionalisme saat ini, kesadaran dan keinginan umat Islam untuk melawan upaya penggiringan opini bertema radikalisme dan melawan upaya pelabelan bahwa pemeluk agama manapun yang taat sebagai sosok radikal dan intoleran, ini adalah saat yang tepat untuk bertindak.

Karena saat ini merupakan titik kritis bagi bangsa. Apakah kita akanengukuhkan kembali persatuan, atau akan hancur termakan racun perpecahan yang terus ditebarkan agen-agen kepentingan asing.

Paranoid? Isu konspirasi? Lihat saja bagaimana kasus lokal mendadak mendapat perhatian tidak biasa dari komunitas asing.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: